Tempat Wisata Di Makassar

Dengan luas 128, 18 Km², Makassar merupakan kota terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Kota ini menjadi rumah bagi 1,5 juta jiwa penduduk.  Awalnya kota ini bernama Ujung Pandang, baru pada tahun 1999 berubah menjadi Makassar. Banyak tempat wisata di Makassar yang menjadi incaran wisatawan lokal maupun mancanegara di kota ini, antara lain benteng Rotterdam, Pantai Losari, Tanjung Bira, dan desa budaya Tana Towa.

Pantai Losari

Pantai ini merupakan tujuan wisata utama dengan akses yang mudah dijangkau. Pantai Losari merentang sepanjang jalan bagian barat Kota Makassar. Begitu sampai di lokasi, gugusan huruf membentuk tulisan “Pantai Losari” menyambut wisatawan yang baru tiba. Tempat ini sering dijadikan tempat bersantai di sore hari oleh penduduk lokal. Selain suasana pantai, pada malam hari wisatawan juga dapat menikmati beragam hidangan laut yang banyak tersedia di sekitar pantai. Layaknya tempat rekreasi, Pantai Losari dipadati pengunjung pada akhir pekan.

Tanjung Bira

Terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi, Tanjung Bira mencuat menjadi primadona baru di kalangan para wisatawan. Secara administratif, Tanjung Bira masuk wilayah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pasir Tanjung Bira putih dan halus, tampak kontras berpadu birunya laut yang cerah, tak kalah indah dengan Maladewa. Surga bagi para pecinta laut. Jika ingin berenang atau snorkeling, pastikan berhati-hati karena terdapat banyak karang.

Ada banyak cara untuk ke Tanjung Bira. Jika ingin praktis dan nyaman, Anda bisa menyewa mobil dan berangkat langsung dari Makassar. Bisa juga naik mobil travel dari Makassara ke Bulukumba, lalu dilanjutkan dengan pete-pete. Jangan lupa membawa uang tunai yang cukup mengingat di Tanjung Bira tidak ada ATM.

Tana Towa

Ammatoa merupakan kawasan adat yang menjadi tempat bermukim masyarakat Suku Kajang yang berada di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan Tana Toraja yang sudah lama populer, Tana Towa memang belum banyak dikunjungi wisatawan. Namun kondisi alam dan budayanya tak kalah mempesona. Ada tujuh dusun di dalam kawasan adat Ammatoa atau biasa disebut Tana Kekea. Pintu masuknya menjadi batas kultural antara Tana Kekea (pemukiman dalam) dan Tana Lohea (pemukiman luar).

Kawasan ini tidak dialiri listrik dan steril dari kendaraan bermotor. Masyarakatnya sengaja menjauhi kehidupan modern agar kesederhanaan hidup lebih terjaga. Warganya tinggal di rumah kayu tradisional dengan bentuk seragam. Mereka berpakaian serba hitam, termasuk seragam sekolah anak-anak yang celana atau roknya juga disesuaikan.

Fort Rotterdam

Benteng ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang didirikan pada tahun 1545. Awalnya bernama Benteng Ujung Pandang, namun karena pada akhirnya benteng ini jatuh ke tangan Belanda, akhirnya diubah menjadi Fort Rotterdam. Fort Rotterdam terletak sekitar 1,5 kilometer dari pusat kota, di bibir pantai barat menghadap Selat Makassar. Tepatnya di Jalan Ujung Pandang Nomr 2. Benteng ini merupakan saksi bisu rangkaian momen bersejarah di kota ini, mulai dari kejayaan Kerajaan Gowa di abad ke-16 hingga masa kolonialisasi Belanda.

Bentuk benteng ini terlihat seperti penyu yang hendak menuju lautan. Bentuk yang unik ini bisa dimaknai sebagai gambaran kejayaan Kerajaan Gowa yang wilayah kekuasaannya tersebar di darat dan lautan. Ada sekitar 100 ruangan di dalam bangunan benteng. Salah satunya dipakai untuk menyekap Pangeran Diponegoro saat kalah dalam perang Jawa melawan Belanda. Di benteng ini pula ia akhirnya meninggal. Di dalam komplek benteng, terdapat bekas penjara Pangeran Diponegoro, yang ditangkap oleh Belanda pada tahun 1845. Ia pun akhirnya dipenjarakan di benteng ini setelah sempat diasingkan ke Manado. Masih dalam komplek yang sama, terdapat Museum La Galligo yang menyimpan sejarah Gowa-Tallo dan juga daerah-daerah lain di Provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi benteng yang masih terjaga, membuat situs sejarah ini menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan.

Makam Pangeran Diponegoro

Setelah menjadi tahanan Belanda di Fort Rotterdam, Pangeran Diponegoro akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Letak kompleks pemakamannya tak jauh dari benteng dan dekat pusat perbelanjaan Pasar Sentral Makassar. Nama Pangeran Diponegoro diabadikan menjadi nama jalan di depan kompleks makam sekitar tahun 1970-an. Sebelumnya jalan tersebut bernama Jalan Maccini Ayo. Di dalam kompleks pemakaman ini, terdapat makam-makam lain, salah satunya makam sang istri, Raden Ayu Ratna Ningsih. Kompleks malam ini ramai dikunjungi oleh mayoritas wisatawan domestik. Sejumlah pejabat juga dikabarkan pernah berziarah ke sini, seperti Sultan Hamengkubuwono X dan Gus Dur.

Pulau Samalona

pulau samalona

Satu lagi surga bahari di dekat kota Makassar, yakni Pulau Samalona. Pulau ini dapat ditempuh dengan perahu sewaan dari Pantai Losari. Letak persisnya di sebelah barat Makassar. Ukurannya tidak terlalu besar, hanya sekitar 2 hektar saja. Selain pantainya yang berpasir putih, alam bawah lautnya juga pantang dilewatkan. Keindahan bawah laut Pulau Samalona menjadi rumah bagi beragam biota laut, seperti ikan-ikan laut dan terumbu karang. Surga bagi para penyelam. Selain itu, bawah lautnya juga menyimpan sejarah. Bangkai kapal perang sisa pertempuran Perang Dunia II teronggok di dasar. Bisa membuat penyelaman Anda semakin menantang.

Trans Studio Makassar

Trans Studio merupakan theme park dalam ruang yang dibangun pada bulan September 2009. Di dalamnya terdapat 21 wahana permaninan, dan dilengkapi beragam fasilitas seperti pusat perbelanjaan, restoran, hotel, dan lain-lain. Sementara anak-anak berkeliling menjajal wahana permainan satu persatu, orangtua dapat cuci mata sambil berbelanja barang-brang yang diperlukan. Banyak merk fashion ternama yang buka toko di dalam kawasan Trans Studio.

Berhubung theme park ini dimiliki oleh pemilik stasiun televisi Transcorp, tak usah heran jika salah satu program permainan yang ada berhubungan dengan dunia produksi televisi. Para pengunjung seakan diajak mengetahui bagaimana suasana stasiun televisi saat sedang mengerjakan suatu program. Dua wahana favorit di Trans Studio Makassar ialah Magic Thunder Coaster dan Rumah Hantu.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply